NON TUNAI NON RISK




Gerakan Nasional Non Tunai atau GNTT mengajak masyarakat untuk membiasakan bertansaksi secara non tunai. Saya tahu, mengajak satu orang saja terkadang susah apalagi mengajak >250.000.000 orang Indonesia. Untuk itu saya akan bantu dengan sedikit cerita berikut
ANDA YANG MANA?
Ada 2 orang, Paijo si manusia yang sangat berprinsip tidak mantap jika tidak tunai katanya sudah diajarkan sejak nikah, SECARA TUNAI. Dan Paijah orang kekinian yang pintar dan simple lebih memilih menggunakan non tunai.
Bayangkan:
Mereka berdua traveling dengan uang saku 10 juta, tiba-tiba ditengah perjalanan ada puting beliung. Untunglah mereka berdua berhasil berlari menyelamatkan diri tapi sayang semua barang milik mereka terambil oleh beliung. Paijo pun menangis melihat ratusan lembar uangnya terbang menghilang. Lalu paijo menoleh heran melihat paijah yang hanya mengelus dada. “kenapa kau tak menangis?” Tanya Paijo “aku bersyukur karena uangku masih AMAN tersimpan yang hilang hanyalah sebuah kartu aku bisa menggantinya”
Sebulan kemudian,
Ada promo mobil terbaru, dua manusia ini pun mendatangi showroom untuk membeli mobil. Saat membayar, Paijah hanya mengeluarkan sebuah kartu, selesai lalu keluar. Dilihatnya Paijo yang sedang membuka tasnya lalu ada 10 kardus lalu dibuka lagi tiap kardus ada 10 kantong plastic dan didalam kantong plastic barulah uangnya dikeluarkan.”paijah kenapa kau cepat sekali, apa kau tidak jadi membelinya?” lalu dengan senyum ramahnya paijah menjawab “di abad 20 ini semua harus CEPAT, untung kartu debitku bisa digunakan di showroom ini”
Sesampai di rumah
Paijo menghitung uang kembalian dari pembelian mobilnya. “apa, aku SALAH HITUNG” Paijo pun curhat ke Paijah bahwa sewaktu di showroom semuanya pas tapi sesampai dirumah ternyata dia membayar lebih. “makanya lebih baik kamu mulai melatih diri bertransaksi secara non tunai, agar tidak terjadi kerugian-kerugian seperti itu” ajak Paijah pada Paijo
Menghibur Paijo
Memang susah move on dari kesedihan, Paijah pun mengajak paijo jalan-jalan ketempat favoritnya, pasar. Saat akan membayarkan ojek, Paijo meminta dia saja yang membayarnya dengan sisa uang dari showroom. Paijo membayar dengan uang seratus ribuan, dan kembali enam puluh. Paijo menyerahkan kembaliannya ke Paijah agar Paijah tahu nikmatnya pegang duit asli ditangannya. “jo ko duit kamu aneh ya kertasnya kaku gitu” setelah dilakukan 3D (dilihat, diraba, diterawang) uang lima puluh ribuannya PALSU. Coba kalo ojeknya pake transfer bank.
Menyayangi harta Negara
Paijo yang kesal pun menyobek lima puluh ribuannya yang palsu, dilihatnya sepuluh ribuan yang asli walaupun tampak kucel, kumal, kusut. “lihat jo kalo kamu pakenya tunai terus, uangnya dipegang terus, jadinya kaya gini, rupiah ini milik Negara menggambarkan bangsa ini, masa digambarkan menyedihkan seperti ini” “itukan dari tukang ojek” protes Paijo “Negara itu ya ngeluarin BANYAK BIAYA untuk MENCETAK rupiah, sudah seharusnya kita menghargai dengan merawat rupiah dengan baik. “ya ya ya aku akan coba kaya kamu pake non tunai” paijo sudah sadar akan kelebihan bertransaksi secara non tunai
Transaksi merupakan budaya yang kuat dimasyarakat, karena itu mengubahnya tidaklah mudah. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Perlu kesadaran dan juga kemauan dari dalam diri sendiri. Gerakan Nasional Non Tunai yang sudah dicanangkan pemerintah alangkah lebih baik diikuti oleh bangsanya. Karena manfaat manfaat besar akan terlihat nantinya. Jadi AYO BERSAMA KITA BANGUN BUDAYA BANGSA, BUDAYA NON TUNAI.
“aku mau beli onde onde ke nenek itu paijah”
“ayo”
Paijo dan Paijah kompak menggunakan kartu untuk membayar
“maaf dek, uang tunai aja”
PLAK




Comments