Curhat: Sadar Ekpektasi dan Move On


Mungkin kalian pernah merasa terluka dan kemudian menyalahkan sesuatu atau buruknya lagi menyalahkan orang lain. Misalnya saja nyalahin pacar yang tiba-tiba ngilang padahal lagi sayang maksimal. Setelah ditinggal kemudian kamu marah dan sangat membencinya karena kamu merasa dialah penyebab rasa sakitmu itu. Atau mungkin kalian pernah merasa kesal ke teman yang tidak mau membantu saat sedang dibutuhkan. Cerita klasik adalah saat kalian coba pinjam uang dan teman kalian justru bilang "pasti kesini kalau lagi susah" padahal kondisi kalian saat itu benar-benar lagi membutuhkan tetapi teman tersebut tidak mau membantu dan hanya memberi banyak alasan. Cerita lain yang pernah saya dengar adalah gagal mendapatkan posisi pekerjaan tertentu karena tidak bisa membayar pendaftaran. Marah dan kecewa, kemudian menyalahkan keadaan atas kegagalan yang didapatkan. 

Menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain tidak akan merubah apapun, sama seperti menabur garam di lautan. Hal yang sia-sia saja. Saat sedang sedih atau kecewa, mengapa kita tidak memandang keadaan tersebut dari sisi yang berbeda. Jangan salahkan orang lain, karena kekecewaan dan rasa sakit sebenarnya berasal dari ekspektasi kalian sendiri. Hanya ada satu aturan yang akan menjauhkan kalian dari rasa kecewa, never expect anything from anyone. Hal yang bisa melukai teman-teman adalah ekspektasi atau harapan yang terlalu tinggi dari sesuatu atau seseorang. Apabila sudah terlanjut kecewa, belajarlah untuk memaafkan dan mengikhlaskan. Banyak orang yang susah move on dari masa-masa sulit dan sedih. Perasaan yang sedang sedih dan kecewa memang seringkali membuat orang menyimpulkan hidupnya hanya dari sisi buruk. Bayangkan ada selembar kertas putih yang masih kosong dan sangat bersih. Kemudian secara tidak sengaja, satu tetesan tinta jatuh di atas kertas tersebut. Apa yang dilihat dari kertas itu pun akan berubah, hanya fokus pada titik hitam kecil saja. Sisi kertas yang masih bersih dilupakan, padahal itulah bagian yang paling banyak. 

Mengapa saya cerita seperti ini, karena hari ini saya bertekad untuk move on dari suatu hal. Saya punya pengalaman yang benar-benar buat saya down. Saat itu saya punya keinginan besar untuk bisa sekolah di STAN. Sekolah gratis dan pasti dapat pekerjaan, itulah yang sangat saya harapkan. Saya coba mendaftar dengan beberapa teman. Seleksinya dilakukan di Balai Diklat Keuangan Jogja. Saya niatin setiap hari, kalau saya ingin benar-benar kuliah disana. Kuliah di STAN atau tidak usah kuliah, begitulah sombongnya saya. Saya tidak ikut les persiapan tes STAN karena tidak punya uang. Saya memilih untuk meminjam buku dari teman dan mengkopi soal-soal untuk latihan sendiri di rumah. Saya latihan setiap hari, mengatur waktu agar bisa menjawab dengan efisien. Tes masuk STAN ini menggunakan sistem skor, masing-masing kategori soal punya skor yang berbeda. Lebih baik menjawab sedikit dan benar karena jika salah maka skornya bisa dikurangi. Pada waktu itu jumlah pendaftarnya kira-kira 88 ribu. Saya nginep di rumah saudara di daerah Condong Catur karena tes tertulisnya dilakukan pagi dan rumah saya jauh di Banyumas, Jawa Tengah. Tes USM STAN jadwalnya bertepatan bulan puasa. Saya senang kalau ikut tes-tes di bulan Ramadhan karena rasanya saya bakal dibantu Tuhan. Tes tertulis cuma beberapa jam, jadinya saya cuma nginep di Jogja semalam saja. Pas pulang saya dianterin ke terminal dan dikasih uang 100 ribu untuk pulang. Seneng banget rasanya waktu itu. Entah kenapa setiap saya tes ke Jogja, pasti ada orang yang ngasih uang 100 ribu. Padahal biasanya cuma dikasih 10 ribu. Jadwal pengumuman tes tulis saya tidak ingat, tapi ada teman saya yang SMS kalau hasilnya sudah diumumin dan ada nama saya disana. Saya tidak percaya, saya langsung pergi ke warnet dan memang benar nama saya masuk. Setelah lulus tes tulis, saya masih harus ikut tes kesehatan, kebugaran, dan wawancara. Tes untuk kali ini berlangsung dua hari, jadi saya nginep di Jogja dua malam. Saya berangkat subuh, pas lagi nungguin bis saya ketemu paman saya. Cerita deh kalau saya mau tes ke Jogja dan dia ngasih uang saku tambahan hehe. Entah salah ngasih atau memang lagi banyak duit, tetapi saya berterima kasih sekali. Kali ini saya tidak punya teman atau kenalan karena semua teman satu sekolah yang mendaftar STAN tidak ada yang lolos tes tulis. Hari pertama, saya tes kesehatan dan kebugaran. Fisik dicek semua dan tes lari di lapangan yang rumputnya udah bener-bener rusak. Kebetulan saya kebagian jadwal terakhir, jadi lapangannya sudah sangat jelek untuk lari. Apalagi cuaca saat itu sangat panas, pokoknya ngga karuan. Hasilnya saya lari cuma dapat 3 putaran, padahal yang lainnya kebanyakan bisa lari 5-7 putaran. Hari itu saya cape sekali. Esoknya adalah jadwal wawancara. Saya masih ingat betul seperti apa jalannya wawancara saya di BDK Jogja. Saya masuk ke ruangan yang dingin ber-ac dan menggunakan karpet merah di seluruh ruangannya. Entah apa penyebabnya, tes wawancara saya berubah menjadi momen curhat yang sangat dramatik. Sumpah, saya nangis waktu itu. Semua ini salah si pewawancara, kenapa dia begitu kepo dengan kehidupan saya. Kan saya jadinya baper haha. Wawancara saya cukup lama dibandingkan yang lain, kira-kira 13 menitan. Saya keluar ruang wawancara dengan mata merah. Supaya tidak ketahuan habis nangis, saya langsung ke kamar mandi. Acara tes selesai dan saya kembali ke Banyumas. Saya pantengin terus kalender dan saat hari H pengumuman final saya langsung meluncur ke warnet. Satu per satu nama saya baca, padahal dokumen PDF bisa memakai CTRL+F. Itulah yang terjadi karena saya kecewa dan tidak percaya. Tidak ada nama saya. 
Cerita-cerita saya selanjutnya adalah depresi dan selalu sedih setiap hari. Hingga akhirnya hari ini saya coba ikhlas kegagalan 6 tahun lalu tersebut. Saya memang sulit untuk move on dari sesuatu yang benar-benar saya suka. 

Saya belajar bahwa time by time, pain turn to a memory. Kata bunda Inul sih "masa lalu biarlah masa lalu". Ikhlas, anggap saja bukan rejekinya. 

Saat kalian merasa hidup kalian tidak sesuai harapan, mungkin kalian melupakan sisi putih dari kehidupan. Termasuk saya sendiri juga iya. Pasti, sudah pasti, setiap manusia memiliki banyak kenikmatan yang sudah diberikan Tuhan. Apa yang dimiliki tidak diingat karena terlalu memikirkan apa yang tidak dimiliki. Merasa sangat susah karena tidak mengingat kemudahan apa saja yang ada dalam hidupnya. Sebagai umat beragama, kita sudah diperintahkan untuk bersyukur. Mungkin hal yang mungkin kalian anggap sepele adalah suatu hal yang sangat dinanti-nantikan di dalam kehidupan orang lain. Syukuri apa saja yang ada dalam hidup, walaupun tidak menyelesaikan masalah setidaknya akan memberikan rasa tenang di dalam hati.

Comments