Toleransi bagi Para Introvert

Source: Pixabay


Saya pernah ikut tes 16 personalities dan katanya 54% saya adalah intovert. Itu bukan suatu yang buruk menurut saya dan introvert juga bukan berarti anti sosial. Saya bisa bergaul dengan mereka yang katanya ekstrovert dan itu tidak ada masalah. Saya suka ketenangan tetapi saya juga tidak akan kesal kalau ada teman saya yang berisik (selama berisiknya itu yang menyenangkan).

Ya.. saya hargai mereka yang memang sukanya ngomong, kalau itu memang dirinya yang sebenarnya maka saya hormati mereka. Saya ingin menjadi orang yang open minded dan bisa bergaul dengan siapa saja tanpa saya harus ikut seperti mereka. Mungkin itu membuat saya berbeda dengan mereka tetapi saya senang untuk bisa bersama dalam perbedaan.
Percayalah, Toleransi adalah Hal Paling Indah antar Umat Manusia
Saya punya teman yang memang dari dulu tidak suka keramaian. Dia hanya dekat dengan beberapa teman, tetapi bukan berarti sama orang lain musuhan. Dia hanya tidak mau berpura-pura nyaman dengan orang lain padahal dia tidak nyaman sama sekali. Si introvert ini adalah teman saya yang paling pintar dan dia juga sudah banyak memenangkan lomba, sebut saja dia Siti. 

Siti itu introvert tetapi dia sama normalnya seperti gadis-gadis pada umumnya. Dia punya teman dan dia juga punya pekerjaan. Namun neneknya Siti ini agak rese kayaknya.

Episode 1 Acara Silaturahmi lebaran

Pas lebaran saya biasa keliling untuk salam-salaman dan kebetulan ketemu neneknya Siti.
Nenek Siti: "Evi mah mau keluar ya, ajakin Siti juga dong biar tidak di rumah terus"
Nenek Siti lagi: "Siti mah semedi aja di rumah"
Nenek Siti lagi dan lagi: "seharusnya kan keluar ya kaya si Evi"

Episode 2 Depan Rumah Saya

Waktu itu saya sedang nyiramin tanaman di halaman depan, tiba-tiba ada yang meringis ke saya, hm.
Nenek Siti: Seger ya Ev, bunganya warna-warni
Nenek Siti lagi: "Kan senengnya keluar rumah, Siti mah boro-boro"
Nenek Siti lagi dan lagi: "Ajak Siti main keluar sana biar tidak terus-terusan diem di kamar"

Episode 3 Pasar

Saya lagi nenteng sayur karena lagi temenin ibu belanja ke pasar, eh ada tangan yang nyolek
Nenek Siti: "Evi mau ke pasar ya, belanja sayur ya"
Nenek Siti lagi: "Coba aja si Siti juga mau keluar rumah, ke pasar, atau kemana"
Nenek Siti lagi dan lagi: "kalau di rumah terus mau bergaul sama siapa ya"

Episode 4....tak terhingga

Saya sudah tidak tahu berapa kali ketemu sama neneknya Siti. Kalau dihitung mungkin sudah kaya episode tukang bubur naik haji, sampai bosan saya. Kalau ketemu pasti yang diomongin adalah Siti yang terus-terusan di rumah, tidak mau keluar sama teman, tidak bersosialiasi dengan lingkungan, dan lain-lain. 

Kalau neneknya Siti lagi bahas topik ini, saya cuma respon nyengir aja. Ya.. mau bagaimana? masa saya harus nyeret orang dari rumahnya buat main keluar. Masa iya saya nyulik orang cuma buat main diluar. Saya, Siti, dan neneknya udah bukan anak kecil lagi, jadi seharusnya bisa saling menghormati. 

Introvert masih dianggap minoritas mungkin dan jadi masalah buat orang lain yang mau-maunya ngurusin hidup orang. Introvert memang tidak pandai untuk mendapat jutaaan teman, tetapi dia sangat cerdas untuk mendapatkan seorang sahabat yang loyal. Dan ingat! kebanyakan introvert akan punya banyak waktu untuk sahabat-sahabat dekatnya. 

Mungkin diluar tampak diam dan dingin, tetapi kalau sudah kenal, si introvert bisa ngomong tanpa bisa distop. Mungkin kebanyakan orang menganggap introvert tidak pandai bicara. Namun mereka bisa memiliki pemikiran dan ide yang luar biasa. Begitu juga dengan teman saya, Siti. 

Neneknya hanya takut dia sendiri, dia tidak punya teman, dia tidak dapat pasangan, dan lainnya. Padahal Siti punya kehidupan yang bagus, dia lulusan sarjana, dia bekerja, dan dia punya teman. Hanya karena dia tidak seperti kebanyakan orang dan lebih sering di rumah, Siti dianggap terlalu dingin dengan dunia luar. 

Kita sering lupa bahwa Tuhan menciptakan dunia dalam banyak perbedeaan. Es yang dingin, lava yang panas, gurun yang kering, pantai yang basah, dan lain sebagainya. Jika kita berusaha menyamakan semua orang dalam suatu standar, itu berarti kita sedang melawan kehendakNya. 

Apapun pandangan hidup dan bagaima cara orang menjalani hidupnya, everyone has their own way to be happy. Hormati orang lain dan hargai kehidupan mereka, baik dia itu introvert atau ekstrovert atau ambivert, pasti dunia akan lebih tenang. 
Humanity will die without tolerance, don't foget that if you are a human. 







Comments

Post a Comment